Aptana Journal #12: Selesai Tanpa Kiamat


Tanggal 21 Desember 2012 dikabarkan adalah akhir dari peradaban manusia.   Beruntungnya, tanggal 21 sudah berlalu, dan sekarang sudah memasuki tanggal 22 (at least, bila  jam kiamat berdasarkan patokan waktu di Indonesia).   Hari ini memang adalah hari yang melelahkan bagi saya, tapi tidak ada tanda-tanda kiamat selain hujan yang turun terus menerus.  Okay, ini berarti saya masih punya kesempatan untuk membuat post blog baru.

Beberapa waktu lalu, saya membaca panduan kurikulum ilmu komputer yang dirancang oleh ACM (Association for Computing Machinary).   Apa itu ACM?  ACM adalah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan penelitian advance computing dimana anggotanya adalah para praktisi di bidangnya.  ACM memiliki panduan kurikulum yang kerap dijadikan sebagai masukan oleh berbagai universitas di dunia.

Kurikulum ACM merefleksikan apa yang dibutuhkan oleh industri saat ini.  ACM juga terus merevisi kurikulumnya dengan meminta masukan dari para praktisi di industri.  Ini adalah hal bagus, karena selama ini, saya sering merasa kalangan akademis menciptakan sebuah “dunia semu” bagi mahasiswanya.  Mahasiswa dipacu untuk mengerjakan ujian yang merefleksikan “dunia semu” ini.  Lalu begitu lulus, mahasiswa harus beradaptasi lagi dengan “dunia nyata” (industri!) yang ternyata beda jauh dari “dunia semu” di kampus.  Bukankah sungguh ironis: mahasiswa mati-matian berjuang mendapat nilai ‘A’ hanya untuk kualitas “dunia semu”;  para mafia kampus akan meningkatkan tingkat kesulitan “dunia semu” menjadi “dunia tak jelas” sehingga mereka mendapat ‘uang saku’ tambahan; dan mahasiswa akan berjuang merayu dosen agar tidak pelit nilai (bila sudah kerja nanti, apakah mereka akan merayu bos agar naik gaji?)  Bila ini dibiarkan terus menerus, kampus akan membentuk sebuah ‘sistem’ tersendiri yang semakin terpisah dari dunia industri.  Gelar akademis dan level golongan dosen lama-lama akan menjadi formalitas tanpa isi, tanpa kebanggaan (mungkin yang tersisa hanya ‘egoisme’ anak kecil dalam membela almamater).

Pada panduan yang saya baca, salah satu masukan dari industri adalah untuk meningkatkan pelajaran yang berkaitan dengan keamanan komputer dan software archeology.  Arkeologi?  Ini bukan pelajaran sejarah ‘kan?!  Software archeology adalah sebuah aktifitas untuk mempelajari kode program buatan orang lain dimana seseorang tidak memiliki dokumentasi yang lengkap atas kode program tersebut.  Ibaratkan dengan arkeologi, kode program buatan orang lain tersebut adalah sebuah artifact bersejarah.  Seorang arkeolog akan memprediksi kenapa ada tumpukan batu di dekat kuil kuno, ia akan menganalisa benda-benda sekitarnya untuk menemukan jawaban.  Dalam software archeology,  seseorang juga harus menganalisa kenapa sebuah bagian kode program dibuat dan untuk tujuan apa.

Mengapa software archeology dianggap penting oleh industri?  Karena, pada saat seorang lulusan bekerja di industri, mereka tidak selalu membuat software dari awal.  Kebanyakan yang terjadi adalah mereka harus bergabung dengan tim dimana proyek mungkin sudah berjalan 1 atau 2 bulan.   Kadang-kadang mereka adalah pengganti karyawan lama yang tiba-tiba menghilang sehingga mereka harus bekerja tanpa sempat melalui transfer ilmu.   Suatu hari nanti, mungkin mereka harus merombak sebuah sistem lama yang sudah dibuat 5 tahun lalu dimana seluruh developer-nya sudah resign.  Disinilah software archeology mulai menunjukkan perannya.

Apa yang saya lakukan selama seri artikel ini, mulai dari Aptana Journal #1 hingga Aptana Journal #12, adalah upaya memahami dan mengubah kode program untuk sebuah software yang dibuat orang lain, yaitu Aptana Studio 3.  Saya tidak punya dokumentasi yang lengkap.  Di kode program Aptana Studio 3, tidak selalu ada JavaDoc!    Ini adalah software archeology.  Tidak ada pembuat kode program original untuk ditanyai (bukan karena orang-orang tersebut adalah manusia purba yang sudah punah!)  Tentu saja, software archeology yang serius memiliki metode formal dan terstruktur, dan saya hanya memakai metode menulis dokumentasi dalam HTML (juga ada class diagram dan sequence diagram yang menempel di dinding!).

Mengubah Aptana Studio 3 untuk mendukung jQuery melalui polymorphism ‘semu’ mungkin tidak selalu berguna bagi semua orang, tapi hal ini akan sangat membantu saya.  Salah satu bagian yang cukup melelahkan adalah mendokumentasikan setiap method dan property jQuery yang ada di http://api.jquery.com ke dalam file ScriptDoc XML.   File yang saya buat tersebut dapat ditemukan di https://docs.google.com/open?id=0B-_rVDnaVRCbNEw5OU1WRUdXM1U.

Perilaku content assist dan context info yang telah berubah dapat dilihat pada animasi berikut (ini adalah animasi GIF berukuran 2.5 MB):

Animasi Yang Menunjukkan Hasil Perubahan

Perihal Solid Snake
I'm nothing...

Apa komentar Anda?

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: