Memakai Tomcat 7 Dengan Cloud Foundry Integration For Eclipse

Cloud Foundry hingga pada saat tulisan ini dibuat masih memakai Tomcat 6.  Dan saya sekarang perlu melakukan migrasi proyek yang sudah ada ke Tomcat 7.  Apakah mungkin?    Hasil Google menunjukkan sebuah artikel berjudul Deploying Tomcat 7 Using the Standalone Framework.   Artikel tersebut menunjukkan bagaimana melakukan deployment ke Tomcat 7 dengan menggunakan perintah command line.  Saya berusaha menghindari penggunaan command line karena selama ini proyek saya sudah memakai Cloud Foundry Integration For Eclipse, sebuah plugin resmi yang mengintegrasikan Eclipse dan Cloud Foundry.

Lalu apakah Cloud Foundry Integration For Eclipse mendukung Standalone Framework (yang memungkinkan penggunaan Tomcat 7)?  Saya kembali melakukan Google dan menemukan sebuah tulisan berjudul Cloud Foundry Integration for Eclipse Now Supports Standalone Java Applications and Java 7.  Jadi Cloud Foundry Integration For Eclipse sudah mendukung Tomcat 7?  Jika saya membaca secara teliti artikel tersebut, yang didukung hanya Standalone Framework.  Plugin tersebut tetap akan mengambil hasil output dari proyek dan meletakkan di server Cloud Foundry.  Bila ingin Tomcat 7 ikut di-deploy di server, maka Tomcat 7 harus dimasukkan sebagai bagian dari output proyek dan hal ini bisa membuat proyek sangat berantakan.   Saya tidak ingin memodifikasi struktur proyek yang sudah ada.

Jadi, apa ada solusinya?  Akhirnya saya memutuskan untuk memodifikasi Cloud Foundry Integration For Eclipse karena plugin tersebut bersifat open-source.

Bagaimana bisa mengetahui sebuah proyek akan memakai Standalone Framework atau tidak?  Berdasarkan panduan yang ada, caranya adalah dengan men-klik kanan nama proyek, memilih Configure, Enable as Cloud Foundry Standalone App.  Hal ini akan menyebabkan kode program di class ConvertToStandaloneAction di CloudFoundryProjectExplorerMenuFactory.java dipanggil.  Apa yang dilakukan oleh Action ini pada dasarnya adalah menambahkan facet cloudfoundry.standalone.app pada proyek.  Manipulasi facet dilakukan dengan bantuan class StandaloneFacetHandler.

Keanehan saya jumpai saat dialog deployment ditampilkan.  Ada dua jenis dialog berbeda yang akan ditampilkan tergantung pada apakah proyek memakai Standalone Framework atau tidak.  Masalahnya, untuk menentukan apakah proyek memakai Standalone Framework atau tidak, kode program tidak memeriksa facet yang di-install sebelumnya saat Enable as Cloud Foundry Standalone App dipilih.  Hal ini menyebabkan beberapa jenis proyek tidak dikenali dengan baik, sehingga dialog Standalone Framework tidak akan muncul.  Untuk mengatasinya, saya menambahkan kode program berikut ini di method isStandaloneApp() milik class StandaloneHandler:

protected boolean isStandaloneApp() {
  ... // kode program diabaikan

  // Check project facet
  if (!isStandalone && module!=null) {
    try {
       IFacetedProject facetedProject = ProjectFacetsManager.create(module.getProject());
       if (facetedProject.getInstalledVersion(StandaloneFacetHandler.FACET)!=null) {
         isStandalone = true;
       }
    } catch (CoreException e) {
       // ignore this
    }
  }
}

Sekarang, saya perlu memodifikasi tampilan pada step 2 di dialog deployment agar terlihat seperti berikut ini:

Perubahan Di Dialog Deployment

Perubahan Di Dialog Deployment

Pada perubahan yang saya buat, container directory adalah direktori yang akan di-deploy sebagai bagian dari proyek.  Direktori ini tidak harus berada di dalam proyek, tetapi dapat berada di lokasi mana saja.  Deploy directory sendiri adalah sebuah direktori relatif yang berada di dalam container directory dimana output proyek (dalam bentuk file war) akan diletakkan.  Dengan demikian, dialog ini tidak hanya berlaku khusus untuk Tomcat 7 saja, tetapi juga untuk container lainnya.  Btw, kedua SWT Text tersebut lebih baik  bila  menyertakan directory chooser.

Untuk membuat tampilan di atas, saya perlu melakukan perubahan pada class CloudFoundryApplicationWizard dan CloudFoundryDeploymentWizardPage.  Secara garis besar, class yang terlibat pada dialog ini terlihat seperti:

UML Class Diagram Untuk Tampilan Wizard Deployment

UML Class Diagram Untuk Tampilan Wizard Deployment

Setelah melakukan modifikasi tampilan, saya perlu sebuah class untuk menampung nilai container directory dan deploy directory.  Untuk itu, saya membuat sebuah class baru dengan nama StandaloneWithContainer.  Posisi class baru ini akan terlihat seperti pada UML class diagram berikut ini:

UML Class Diagram Setelah Penambahan StandaloneWithContainer

UML Class Diagram Setelah Penambahan StandaloneWithContainer

Masih ada satu lagi yang perlu saya lakukan yaitu membuat sebuah class baru yang mewakili isi yang akan dikirim ke server.  Saya akan menamakan class ini sebagai StandaloneApplicationArchiveWithContainer, dimana posisi class ini ditunjukkan oleh UML class diagram berikut ini:

UML Class Diagram Yang Menggambarkan ApplicationArchive Yang Ada

UML Class Diagram Yang Menggambarkan ApplicationArchive Yang Ada

Secara garis besar, class StandaloneApplicationArchiveWithContainer adalah perpaduan antara ModuleResourceApplicationArchive dan DirectoryApplicationArchive.  Class ini akan membuat file WAR dari output proyek, meletakkan file WAR tersebut ke direktori dalam container yang ditentukan oleh deploy directory, baru kemudian mengirimkan seluruh isi container directory ke server Cloud Foundry.

Selama mengotak-atik di bagian ini, saya menemukan sebuah bug yang disebabkan oleh masalah multiplatform.  Berikut ini adalah kode program di DirectoryApplicationArchive.java di baris 75:

this.name = file.getAbsolutePath().substring(directory.getAbsolutePath().length()+1);
if (isDirectory()) {
  this.name = this.name + "/";
}

Karena server Cloud Foundry berbasiskan Linux, maka pemisah direktori yang dipakai adalah “/”.  Penggunaan getAbsolutePath() akan selalu mengembalikan pemisah direktori sesuai dengan platform pengguna.  Bila di Windows, ini adalah karakter “\”.  Oleh sebab itu, di StandaloneApplicationArchiveWithContainer, saya menggunakan pendekatan seperti berikut ini:

this.name = file.getAbsolutePath().replace(System.getProperty("file.separator", "/"), "/");

Setelah melakukan modifikasi pada Cloud Foundry Integration For Eclipse, saya bisa men-deploy aplikasi seperti biasa tanpa mengubah struktur proyek sama sekali!  Tomcat 7 secara otomatis akan di-“kirim” ke server, seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Struktur Hasil Deployment Di Server Cloud Foundry

Struktur Hasil Deployment Di Server Cloud Foundry

Iklan

Apa itu Eclipse Tycho?

Ini adalah pertanyaan yang muncul saat saya sedang membaca panduan untuk men-build Cloud Foundry Integration For Eclipse, plugin resmi untuk Eclipse yang mempermudah deploy aplikasi yang dibuat di Eclipse ke Cloud Foundry.  Ini pertama kalinya saya mendengar nama Tycho disebut.  Apa sebenarnya benda itu?

Secara garis besar, Tycho adalah sebuah plugin Maven yang memungkinkan pembuat plugin di Eclipse memakai Maven.  Selama ini, saat membuat plugin Eclipse, semua informasi seperti dependencies diletakkan di file MANIFEST.MF dan plugin.xml.  Bila saya memakai Maven, berarti saya harus menduplikasikan informasi tersebut ke file khas Maven, yaitu pom.xml.  Tentu saja ini akan merepotkan!  Dan itulah alasan Tycho terlahir.

Agar proyek plugin memakai Maven, maka saya men-klik kanan nama proyek, memilih menu Configure, Convert to Maven Project.

Pada proyek yang memakai Tycho, saya akan menemukan baris seperti berikut ini di pom.xml:

<plugin>
  <groupId>org.eclipse.tycho</groupId>
  <artifactId>tycho-p2-plugin</artifactId>
  <version>${tycho-version}</version> <!-- versi Tycho yang dipakai -->
  ...
</plugin>

Baris di atas menunjukkan bahwa Maven perlu men-download dan memakai Tycho.  Saya juga akan menemukan baris seperti ini di pom.xml:

<packaging>eclipse-plugin</packaging>

Ini menunjukkan apa hasil akhir yang akan dibuat oleh Maven.  Nilai lain yang bisa dipakai adalah eclipse-feature.

Setelah melakukan konversi menjadi proyek Maven, bila ini pertama kali, saya akan menemukan banyak pesan kesalahan di pom.xml.  Untuk itu saya men-klik kanan nama proyek, memilih Maven, Update Project…  Lalu, saya memilih semua proyek yang ada dengan men-klik tombol Select All.  Saya juga memberi tanda centang pada Force Update of Snapshots/Releases.  Setelah itu saya men-klik tombol OK.  Saya memastikan komputer terhubung ke internet karena Maven perlu men-download  file-file yang dibutuhkan.  Selain itu, juga tersedia Lifecycle Mappings m2e pada proyek yang memakai Tycho, yaitu  Tycho Configurator, yang dapat di-install melalui m2e Marketplace.

Tapi saya menemukan bahwa tidak semuanya bisa diproses dari m2e.  Misalnya, di proyek Cloud Foundry Integration For Eclipse, saya harus membuka command prompt untuk memberikan perintah Maven secara manual untuk pom.xml yang berada di direktori paling luar (bukan dari bagian proyek manapun).  Ini adalah parent POM yang direferensikan oleh POM di masing-masing proyek.

Untuk menghasilkan output pada proyek open source Cloud Foundry Integration For Eclipse, saya memberikan perintah seperti berikut ini:

C:>mvn -Dmaven.test.skip=true -Pe36 package
...
[INFO] ------------------------------------------------------------------------
[INFO] Reactor Summary:
[INFO]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.parent ........ SUCCESS [2.746s]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.core .......... SUCCESS [10.062s]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.rse ........... SUCCESS [0.998s]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.ui ............ SUCCESS [9.438s]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.branding ...... SUCCESS [0.515s]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server ............... SUCCESS [1.030s]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.tests ......... SUCCESS [2.870s]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.source ........ SUCCESS [0.343s]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.sdk ........... SUCCESS [0.468s]
[INFO] Cloud Foundry Integration for Eclipse ............. SUCCESS [6.365s]
[INFO] org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.target ........ SUCCESS [0.952s]
[INFO] ------------------------------------------------------------------------
[INFO] BUILD SUCCESS
[INFO] ------------------------------------------------------------------------
[INFO] Total time: 0:0.761s
[INFO] Finished at: Fri Dec 28 13:35:45 ICT 2012
[INFO] Final Memory: 77M/1024M
[INFO] ------------------------------------------------------------------------

Parameter -D yang memberi nilai maven.test.skip dengan true menyebabkan unit test tidak dikerjakan.  Sementara itu, parameter -P akan memilih profil yang aktif, yaitu e36.  Profil ini didefinisikan di pom.xml Cloud Foundry Integeration For Eclipse.  Btw, pada saat pertama kali dijalankan, perintah ini membutuhkan waktu lama karena ia akan men-download file yang dibutuhkan ke dalam repository lokal Maven.

Hasil akhirnya adalah sebuah folder dengan nama org.cloudfoundry.ide.eclipse.server.site, dimana folder ini adalah folder site yang sudah berisi hasil build plugin dan siap dipakai oleh pengguna bila diletakkan di web server.  Selain itu, juga ada versi ZIP untuk distribusi manual.

Semua proses build ini berlangsung dengan 1 perintah Maven di command line.  Tycho memungkinkan Maven untuk melakukan ini.  Sebagai perbandingan, tanpa Maven dan Tycho, saya harus men-klik tampilan dashboard plugin di Eclipse RCP.  Sebenarnya tidak beda repot.  Tapi lain halnya bila dibutuhkan nightly snapshot (rilis harian) dan continuous integration (pengujian secara periodik dan otomatis) dimana operasi mouse di GUI tidak bisa dijadwalkan untuk dikerjakan secara otomatis.

Tugas Tycho hanya sampai disini!  Bila misalnya ada masalah dependency di IDE Eclipse RCP, saya tetap harus menyelesaikannya.  Misalnya seluruh dependencies telah di-download oleh Maven, tapi Eclipse RCP mungkin tidak tahu harus mencari dimana.  Bila terjadi hasil seperti ini, saya perlu memilih menu Window, Preferences, Plug-in Development.  Lalu pada Target Platform, saya bisa meng-edit target yang aktif untuk menambahkan direktori baru yang berisi plugin yang dibutuhkan.

Warning Discouraged Access Saat Membuat Kode Program Eclipse Plugin

Pada zaman dahulu kala, malam Natal adalah malam yang spesial dimana kami sekeluarga bersama mengadakan acara santap malam bersama.  Ramai dan penuh canda tawa.   Di saat malam yang sepi tiba, saya akan menjalankan player DOS untuk melantunkan nada MIDI jingle bells lewat speaker internal komputer (saat itu MP3 dan speaker multimedia belum populer).  Waktu terus berlalu, ada yang datang dan ada yang pergi, hingga akhirnya malam Natal bukan lagi hari yang spesial.  Well, setidaknya saya masih coding di akhir tahun.

Kali ini saya mencoba menambahkan content assist untuk memunculkan id dan css class pada saat berada di selector jQuery, seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Content Assist Untuk jQuery Selector

Content Assist Untuk jQuery Selector

Pada saat membuat kode program, untuk pertama kalinya saya menemukan banyak pesan warning.  Salah satu contoh pesan warning tersebut adalah:

Discouraged access: The method getIDs(index) from the type CSSIndexQueryHelper is not accessible due to restriction on required project com.aptana.editor.css

Kenapa bisa demikian?

Karena saya merasa bahwa content assist di jQuery selector memiliki kemiripan dengan content assist di CSS, maka saya akan memakai class-class yang ada di plugin com.aptana.editor.css.   Btw, setiap plugin adalah sebuah komponen yang terpisah, misalnya plugin A boleh di-update tanpa perlu meng-update plugin B (bila masalah kompatibilitas diabaikan!).   Dengan demikian, plugin com.aptana.editor.js (karena jQuery adalah JavaScript) akan membutuhkan plugin com.aptana.editor.css.

Saya perlu menambahkan dependency di plugin com.aptana.editor.js seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Menambah Required Plugin

Menambah Required Plugin

Lalu, bukankah setelah saya menambah dependency, maka saya bisa memakai seluruh class yang ada di com.aptana.editor.css secara bebas?  Kenapa saya masih malah pesan warning?

Jawabannya adalah tidak semua class yang ada di plugin com.aptana.editor.css dapat saya pakai. Hal ini karena sebuah plugin memiliki sebuah mekanisme untuk menentukan mana class yang boleh di-export dan mana yang tidak boleh dipakai oleh orang lain.

Hal ini dapat terlihat bila saya membuka file plugin.xml pada plugin com.aptana.editor.css, di tab MANIFEST.MF, saya akan menemukan baris yang kira-kira seperti berikut ini:

Export-Package: com.aptana.editor.css,
 com.aptana.editor.css.contentassist; x-friends:="com.aptana.editor.html,com.aptana.editor.erb,com.aptana.editor.svg",
 com.aptana.editor.css.contentassist.index,
 com.aptana.editor.css.internal.build;x-friends:="com.aptana.editor.html",
 com.aptana.editor.css.internal.text;x-friends:="com.aptana.editor.html",
 com.aptana.editor.css.outline,
 com.aptana.editor.css.parsing,
 com.aptana.editor.css.parsing.ast,
 com.aptana.editor.css.text

Hanya class yang berada dalam list Export-Package tersebut saja yang dapat diakses oleh publik.   Tapi ada pengeculian untuk beberapa package, terdapat definisi x-friends.  Ini berarti hanya plugin tertentu saja yang boleh mengakses class-class yang ada di dalam package tersebut.

Karena saya memakai class dalam package yang mengandung x-friends, plugin com.aptana.editor.js sama sekali belum terdaftar, maka pesan warning discouraged access-pun muncul.

Untuk menghilangkan pesan warning ini, saya akan mengubah definisi MANIFEST.MF di atas menjadi seperti berikut ini:

Export-Package: com.aptana.editor.css,
 com.aptana.editor.css.contentassist; x-friends:="com.aptana.editor.html,com.aptana.editor.erb,com.aptana.editor.svg,
   com.aptana.editor.js",
 com.aptana.editor.css.contentassist.index,
 com.aptana.editor.css.internal.build;x-friends:="com.aptana.editor.html",
 com.aptana.editor.css.internal.text;x-friends:="com.aptana.editor.html, com.aptana.editor.js",
 com.aptana.editor.css.outline,
 com.aptana.editor.css.parsing,
 com.aptana.editor.css.parsing.ast,
 com.aptana.editor.css.text

Setelah ini, saya tidak akan menemukan pesan warning discouraged access lagi.

Aptana Journal #12: Selesai Tanpa Kiamat

Tanggal 21 Desember 2012 dikabarkan adalah akhir dari peradaban manusia.   Beruntungnya, tanggal 21 sudah berlalu, dan sekarang sudah memasuki tanggal 22 (at least, bila  jam kiamat berdasarkan patokan waktu di Indonesia).   Hari ini memang adalah hari yang melelahkan bagi saya, tapi tidak ada tanda-tanda kiamat selain hujan yang turun terus menerus.  Okay, ini berarti saya masih punya kesempatan untuk membuat post blog baru.

Beberapa waktu lalu, saya membaca panduan kurikulum ilmu komputer yang dirancang oleh ACM (Association for Computing Machinary).   Apa itu ACM?  ACM adalah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan penelitian advance computing dimana anggotanya adalah para praktisi di bidangnya.  ACM memiliki panduan kurikulum yang kerap dijadikan sebagai masukan oleh berbagai universitas di dunia.

Kurikulum ACM merefleksikan apa yang dibutuhkan oleh industri saat ini.  ACM juga terus merevisi kurikulumnya dengan meminta masukan dari para praktisi di industri.  Ini adalah hal bagus, karena selama ini, saya sering merasa kalangan akademis menciptakan sebuah “dunia semu” bagi mahasiswanya.  Mahasiswa dipacu untuk mengerjakan ujian yang merefleksikan “dunia semu” ini.  Lalu begitu lulus, mahasiswa harus beradaptasi lagi dengan “dunia nyata” (industri!) yang ternyata beda jauh dari “dunia semu” di kampus.  Bukankah sungguh ironis: mahasiswa mati-matian berjuang mendapat nilai ‘A’ hanya untuk kualitas “dunia semu”;  para mafia kampus akan meningkatkan tingkat kesulitan “dunia semu” menjadi “dunia tak jelas” sehingga mereka mendapat ‘uang saku’ tambahan; dan mahasiswa akan berjuang merayu dosen agar tidak pelit nilai (bila sudah kerja nanti, apakah mereka akan merayu bos agar naik gaji?)  Bila ini dibiarkan terus menerus, kampus akan membentuk sebuah ‘sistem’ tersendiri yang semakin terpisah dari dunia industri.  Gelar akademis dan level golongan dosen lama-lama akan menjadi formalitas tanpa isi, tanpa kebanggaan (mungkin yang tersisa hanya ‘egoisme’ anak kecil dalam membela almamater).

Pada panduan yang saya baca, salah satu masukan dari industri adalah untuk meningkatkan pelajaran yang berkaitan dengan keamanan komputer dan software archeology.  Arkeologi?  Ini bukan pelajaran sejarah ‘kan?!  Software archeology adalah sebuah aktifitas untuk mempelajari kode program buatan orang lain dimana seseorang tidak memiliki dokumentasi yang lengkap atas kode program tersebut.  Ibaratkan dengan arkeologi, kode program buatan orang lain tersebut adalah sebuah artifact bersejarah.  Seorang arkeolog akan memprediksi kenapa ada tumpukan batu di dekat kuil kuno, ia akan menganalisa benda-benda sekitarnya untuk menemukan jawaban.  Dalam software archeology,  seseorang juga harus menganalisa kenapa sebuah bagian kode program dibuat dan untuk tujuan apa.

Mengapa software archeology dianggap penting oleh industri?  Karena, pada saat seorang lulusan bekerja di industri, mereka tidak selalu membuat software dari awal.  Kebanyakan yang terjadi adalah mereka harus bergabung dengan tim dimana proyek mungkin sudah berjalan 1 atau 2 bulan.   Kadang-kadang mereka adalah pengganti karyawan lama yang tiba-tiba menghilang sehingga mereka harus bekerja tanpa sempat melalui transfer ilmu.   Suatu hari nanti, mungkin mereka harus merombak sebuah sistem lama yang sudah dibuat 5 tahun lalu dimana seluruh developer-nya sudah resign.  Disinilah software archeology mulai menunjukkan perannya.

Apa yang saya lakukan selama seri artikel ini, mulai dari Aptana Journal #1 hingga Aptana Journal #12, adalah upaya memahami dan mengubah kode program untuk sebuah software yang dibuat orang lain, yaitu Aptana Studio 3.  Saya tidak punya dokumentasi yang lengkap.  Di kode program Aptana Studio 3, tidak selalu ada JavaDoc!    Ini adalah software archeology.  Tidak ada pembuat kode program original untuk ditanyai (bukan karena orang-orang tersebut adalah manusia purba yang sudah punah!)  Tentu saja, software archeology yang serius memiliki metode formal dan terstruktur, dan saya hanya memakai metode menulis dokumentasi dalam HTML (juga ada class diagram dan sequence diagram yang menempel di dinding!).

Mengubah Aptana Studio 3 untuk mendukung jQuery melalui polymorphism ‘semu’ mungkin tidak selalu berguna bagi semua orang, tapi hal ini akan sangat membantu saya.  Salah satu bagian yang cukup melelahkan adalah mendokumentasikan setiap method dan property jQuery yang ada di http://api.jquery.com ke dalam file ScriptDoc XML.   File yang saya buat tersebut dapat ditemukan di https://docs.google.com/open?id=0B-_rVDnaVRCbNEw5OU1WRUdXM1U.

Perilaku content assist dan context info yang telah berubah dapat dilihat pada animasi berikut (ini adalah animasi GIF berukuran 2.5 MB):

Animasi Yang Menunjukkan Hasil Perubahan

Aptana Journal #11: Menambahkan Dukungan Inline JSDoc

Artikel sebelumnya adalah salah satu post yang menarik di akhir tahun 2012 ini karena artikel tersebut adalah artikel ke-212 yang saya tulis di blog ini 🙂

Post ke 212 Untuk Seri ke 10 Di Akhir Tahun 2012

Post ke 212 Untuk Seri ke 10 Di Akhir Tahun 2012

Dan kembali ke artikel 213,  saya dihadapkan permasalahan bagaimana menampilkan content assist untuk argumen dalam anonymous inner function, misalnya yang paling sering ditemui adalah jQuery.Event.  Sebagai contoh, content assist tidak bekerja dengan baik di gambar berikut ini:

Content Assist Tidak Menampilkan proposal untuk object jQuery.Event

Content Assist Tidak Menampilkan proposal untuk object jQuery.Event

Padahal, e adalah sebuah variabel dengan tipe jQuery.Event. Dan saya sudah menambahkan bagian berikut ini ke ScriptDoc XML yang dipakai:

<javascript>
   ... <!-- isi diabaikan -->

   <class type="jQuery.Event">
     <properties>
        <property name="currentTarget" type="Element" scope="instance">
           <description>The current DOM element within the event bubbling phase.</description>
        </property>
     </properties>
   </class>
</javascript>

Dalam bahasa seperti JavaScript, memang sangat sulit untuk menentukan apa tipe dari sebuah variabel.  Tapi, bila programmer JavaScript menambahkan sebuah komentar dengan makna khusus, misalnya JSDoc, maka Aptana Studio bisa mengetahui tipe dari variabel e dan menampilkan content assist untuk variabel tersebut.  Saat ini, Aptana Studio mendukung penggunaan @type untuk elemen selain function sehingga content assist bekerja dengan baik bila saya menambahkan JSDOC tersebut seperti berikut ini:

Menggunakan JSDoc @type di Aptana Studio

Menggunakan JSDoc @type di Aptana Studio

Tapi saya merasa syntax tersebut masih terlalu panjang.  Oleh sebab itu, saya mencoba memodifikasi Aptana Studio agar mendukung inline JSDoc yang lebih singkat.

Hasil penelusuran membawa saya ke class JSTypeUtil di method applyDocumentation(). Method ini akan memeriksa apakah property adalah FunctionElement. Bila iya, maka ia akan memberikan dokumentasi untuk FunctionElement tersebut.  Jika bukan, ia memberikan dokumentasi ke PropertyElement yang ada berdasarkan block.getText(), block.getTags(TagType.TYPE), dan block.getTags(TagType.EXAMPLE) (dimana block adalah sebuah DocumentationBlock).

Untuk mendukung inline JSDOC, saya perlu mengubah alur di atas,  sehingga kode program akan terlihat seperti berikut ini:

public static void applyDocumentation(PropertyElement property, JSNode node, DocumentationBlock block)
{
   if (property instanceof FunctionElement)
   {
       ... // kode program diabaikan
   }
   else
   {
       if (block != null)
       {
           // Bila tidak ada tag TYPE, maka ini adalah sebuah inline JSDOC
           if (block.getTags(TagType.TYPE).isEmpty()) {
              if (!StringUtil.isEmpty(block.getText().trim())) {
                 property.addType(block.getText().trim());
              }
           } else {

              ... // ini adalah kode program semula
           }
       }
   }
}

Sekarang, bila saya memakai inline JSDoc, maka content assist akan bekerja sesuai dengan yang diharapkan seperti pada gambar berikut ini:

Content Assist Untuk Inline JSDoc

Content Assist Untuk Inline JSDoc

Ops!  Tunggu dulu..  Bila saya memperhatikan contoh inline JSDoc di halaman http://code.google.com/p/jsdoc-toolkit/wiki/InlineDocs, terlihat bahwa tidak ada spasi di antara tipe dan komentar.  Versi perubahan saya saat ini masih tidak compatible.

Oleh sebab itu, saya masih perlu melakukan perubahan.  Saya harus mengubah SDoc.flex  dan SDoc.grammar agar mengenali inline JSDoc yang tidak dipisahkan dengan spasi.

Saya mulai dengan menambahkan sebuah definisi terminal baru di /com.aptana.js.core/parsing/SDoc.flex dengan nama INLINE_DOCUMENTATION seperti berikut ini:

%terminals INLINE_DOCUMENTATION;

Lalu, pada definisi rule Block, saya mengubahnya sehingga terlihat seperti berikut ini:

Block
	=	START_DOCUMENTATION Text.text END_DOCUMENTATION
		{:
			return new DocumentationBlock((String) text.value);
		:}
	|	START_DOCUMENTATION Tags.tags END_DOCUMENTATION
		{:
			return new DocumentationBlock((List<Tag>) tags.value);
		:}
	|	START_DOCUMENTATION Text.text Tags.tags END_DOCUMENTATION
		{:
			return new DocumentationBlock((String) text.value, (List<Tag>) tags.value);
		:}
	|	INLINE_DOCUMENTATION.text
	    {:
	    	return new InlineDocumentationBlock((String)text.value);
	    :}
	;

Pada kode program di atas, saya memisahkan antara dokumentasi biasa yang diwakili oleh class DocumentationBlock dan dokumentasi inline yang diwakili oleh class InlineDocumentationBlock.   Saat ini class InlineDocumentationBlock belum ada, sehingga saya perlu membuatnya.   Karena InlineDocumentationBlock pada dasarnya adalah bentuk khusus dari DocumentationBlock, maka saya tinggal menurunkan class tersebut dari DocumentationBlock.   Class baru ini dibuat di package com.aptana.js.internal.core.parsing.sdoc.model di proyek com.aptana.js.core dengan isi seperti berikut ini:

package com.aptana.js.internal.core.parsing.sdoc.model;

/**
 * Model to represent inline doc comments. See 
 * <a href="http://code.google.com/p/jsdoc-toolkit/wiki/InlineDocs">
 * http://code.google.com/p/jsdoc-toolkit/wiki/InlineDocs</a> for example.
 * 
 * @author SolidSnake
 *
 */
public class InlineDocumentationBlock extends DocumentationBlock {

	public InlineDocumentationBlock(String content) {
		super(content);
	}

}

Setelah itu, pada file /com.aptana.js.core/com/aptana/js/internal/core/parsing/sdoc/SDocTokenType.java, di bagian enumeration SDocTokenType, saya menambahkan baris berikut ini:

  INLINE_DOCUMENTATION(Terminals.INLINE_DOCUMENTATION),

Lalu, saya melakukan perubahan di file , dengan menambahkan baris berikut ini di <YYINITIAL>:

  // inline documentation
  "/**" [^ \t\r\n{\[\]#]+ "*/"  {
	String text = yytext(); 
	return newToken(SDocTokenType.INLINE_DOCUMENTATION, text.substring(3,text.length()-2)); }

Perubahan pada scanner generator dan parser generator telah selesai, saya pun mencoba menjalankan build.js.xml untuk memastikan bahwa file Java bisa dihasilkan dengan baik.  Caranya adalah dengan men-klik kanan file build.js.xml, kemudian memilih Run As, Ant Build.  Setelah memastikan bahwa Console menampilkan tulisan BUILD SUCCESSFUL,  saya mencoba me-refresh package com.aptana.js.internal.core.parsing.sdoc dengan men-klik kanan package tersebut dan memilih Refresh.

Perubahan terakhir yang perlu saya lakukan kembali lagi ke class JSTypeUtil di method applyDocumentation(). Saya kembali mengubah method tersebut sehingga terlihat seperti berikut ini:

public static void applyDocumentation(PropertyElement property, JSNode node, DocumentationBlock block)
{
  if (property instanceof FunctionElement)
  {
    applyDocumentation((FunctionElement) property, node, block);
  }
  else
  {
    if (block != null)
    {
      if (block instanceof InlineDocumentationBlock) {

        if (!StringUtil.isEmpty(block.getText().trim())) {
          property.addType(block.getText().trim());
        }

      } else {

        // apply description
        property.setDescription(block.getText());

        // apply types
        for (Tag tag : block.getTags(TagType.TYPE))
        {
          TypeTag typeTag = (TypeTag) tag;

          for (Type type : typeTag.getTypes())
          {
            ReturnTypeElement returnType = new ReturnTypeElement();

            returnType.setType(type.toSource());
            returnType.setDescription(typeTag.getText());
            property.addType(returnType);
          }
        }

        // apply examples
        for (Tag tag : block.getTags(TagType.EXAMPLE))
        {
          ExampleTag exampleTag = (ExampleTag) tag;

          property.addExample(exampleTag.getText());
        }

      }
    }
  }
}

Sekarang, inline JSDoc bisa bekerja dengan baik seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Inline JSDoc yang bekerja dengan baik

Inline JSDoc yang bekerja dengan baik

Aptana Journal #10: Menampilkan Parameter Di Content Assist

Walaupun berhasil menampilkan ‘polymorphism‘ di content assist, seluruh nama method yang muncul selalu dengan nama yang sama.  Hal ini terkadang bisa sangat membingungkan.  Oleh sebab itu, saya ingin melakukan perubahan dimana nama method yang muncul di content assist juga menyertakan parameter.

Untuk itu, saya perlu mengubah method addProposal(Set<ICompletionProposal>, PropertyElement, int, URI, String, String[] di class JSContentAssistProcessor dengan menambahkan bagian seperti berikut ini:

PropertyElementProposal proposal = null;
if (property instanceof FunctionElement) {
  FunctionElement function = (FunctionElement) property;
  String documentation = JSModelFormatter.CONTEXT_INFO.getDocumentation(function);
  ContextInformation contextInformation = new ContextInformation(function.getName(), documentation);

  String proposalValue = StringUtil.join(null, function.getName(), "(",
    StringUtil.join(", ", function.getParameterNames()), ")");
  proposal = new PropertyElementProposal(proposalvalue, function.getName()+"()", function.getName().length()+1,
    function, offset, replaceLength, projectURI, contextInformation);
}

Langkah berikutnya adalah mengubah constructor yang pernah saya tambahkan di PropertyElementProposal.  Saya akui bahwa perubahan ini bukan yang terbaik, karena saya hanya menambah tanpa berani mengubah karena takut merusak yang sudah ada.  Akibatnya, parameter constructor terlihat panjang seperti berikut ini:

public PropertyElementProposal(String displayString, String replacementString, int cursorPosition,
  PropertyElement property, int offset, int replaceLength, URI uri, ContextInformation contextInformation)
{
  super(replacementString, offset, replaceLength, cursorPosition, null, displayString, 
    contextInformation, null);
  this.property = property;
  this.uri = uri;
}

Perjuangan belum selesai sampai disini, karena urutan tampilnya content assist tiba-tiba jadi berantakan.  Saya perlu mencari tahu kenapa, dan akhirnya menemukan jawaban di method validate() milik CommonCompletionProposal. Sebagai informasi, class PropertyElementProposal adalah turunan dari CommonCompletionProposal, sehingga method validate() ini ikut dipanggil. Berikut adalah isi method validate():

public boolean validate(IDocument document, int offset, DocumentEvent event)
{
  if (offset < this._replacementOffset)
    return false;

  int overlapIndex = getDisplayString().length - _replacementString.length();
  overlapIndex = Math.max(0, overlapIndex);
  String endPortion = getDisplayString().substring(overlapIndex);
  boolean validated = isValidPrefix(getPrefix(document, offset), endPortion);

  if (validated && event!=null)
  {
     // ... kode program diabaikan
  }

  return validated;
}

Karena nilai _displayString sangat berbeda dengan nilai _replacementString, maka hasil variabel endPortion jadi aneh.  Tapi karena kode program ini bukan saya yang buat, saya tidak mengerti apa tujuan awalnya.

Lalu apa saya harus mengubah method validate() di CommonCompletionProposal?   Tidak, lebih baik saya men-override method validate() ini di PropertyElementProposal sehingga perubahan tidak berdampak CommonCompletionProposal yang lain.   Oleh sebab itu, saya menambahkan method berikut ini di PropertyElementProposal (yang isinya hampir sama seperti di CommonCompletionProposal:

@Override
public boolean validate(IDocument document, int offset, DocumentEvent event)
{
	if (offset < this._replacementOffset)
		return false;

	int posisiKurung = getDisplayString().indexOf('(');
	String propertyName = null;
	if (posisiKurung == -1) {
		propertyName = getDisplayString();
	} else {
		propertyName = getDisplayString().substring(0, getDisplayString().indexOf('('));
	}
	int overlapIndex = propertyName.length() - _replacementString.length();
	overlapIndex = Math.max(0, overlapIndex);
	String endPortion = getDisplayString().substring(overlapIndex);
	boolean validated = isValidPrefix(getPrefix(document, offset), endPortion);

	if (validated && event != null)
	{
		// make sure that we change the replacement length as the document content changes
		int delta = ((event.fText == null) ? 0 : event.fText.length()) - event.fLength;
		final int newLength = Math.max(_replacementLength + delta, 0);
		_replacementLength = newLength;
	}

	return validated;
}

Sekarang, content assist untuk method yang memiliki banyak variasi tidak akan terlihat membingungkan lagi karena sudah ada informasi parameter seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Content Assist Dengan Informasi Parameter

Content Assist Dengan Informasi Parameter

Aptana Journal #9: Mengorbankan Static Method

Pada Journal #1, saya melakukan perubahan pada ParserUtil di method getParentObjectTypes() dimana saya menganggap seluruh referensi jQuery adalah ke Function<jQuery> bukan Class<jQuery>.  Dengan kata lain, saya menganggap semua penggunaan jQuery berdasarkan instance, misalnya: $("p").blur(). Padahal, pada kenyataannya, ada beberapa method jQuery yang dapat diakses tanpa harus membuat instance, misalnya: $.ajax().  Method seperti ini adalah method static.   Dengan pendekatan yang saya tempuh saat ini, seluruh method, baik yang static maupun per-instace, akan ditampilkan dalam content assist saat pengguna mengetik jQuery atau $.   Saya pikir trade-off ini masih dapat diterima bila dibandingkan dengan keuntungan yang saya peroleh saat melakukan coding jQuery nanti (membuat widget, misalnya).

jQuery mengandung beberapa definisi class yang dapat dipakai diluar, misalnya Callbacks, Deferred, dan jqXHR.  Kebanyakan dari class tersebut dapat dibuat dengan constructor berupa method static di object jQuery.   Karena saya tidak mendukung method static, maka saya mendokumentasikan seluruh constructor sebagai function biasa (per-instance).

Permasalahan yang saya hadapi adalah content assist tidak bekerja dengan baik untuk constructor tersebut.  Aptana Studio menganggap seluruh constructor tersebut mengembalikan sebuah Object yang universal.

Mengapa demikian?  Untuk menjawab pertanyaan ini, saya pun melakukan penelusuran, yang membawa saya pada class JSNodeTypeInferrer. Class ini memiliki sebuah method dengan nama visit() dimana berisi cuplikan seperti berikut ini:

public void visit(JSGetPropertyNode node)
{
   ... // kode diabaikan
   // TODO Combine with similiar code from ParseUtil.getParentObjectTypes
   if (JSTypeCOnstants.FUNCTION_JQUERY.equals(typeName)
          && lhs instanceof JSIdentifierNode
          && (JSTypeConstants.DOLLAR.equals(lhs.getText()) || JSTypeConstants.JQUERY.
                 .equals(lhs.getText())))
   {
       typeName = JSTypeConstants.CLASS_JQUERY;
   }
   ... // kode diabaikan
}

Wow!  Sesuai dengan komentar TODO di atas-nya,  disini telah terjadi duplikasi kode program.  Bila saya menghilangkan logic di ParseUtil.getParentObjectTypes() (petualangan di journal #1), maka saya WAJIB  menghilangkan bagian yang ini juga!  Ini bisa membingungkan orang-orang, terutama saya yang berasumsi bahwa perubahan pada ParseUtil sudah menyelesaikan masalah, tetapi disini juga perlu diubah.  Untuk itu, saya memberikan komentar pada baris di atas sehingga mereka tidak akan mengubah Function<jQuery> menjadi Class<jQuery>.

Tapi petualangan belum berakhir sampai disini.  Setelah tipe class bisa ditemukan dengan baik, Apatana Studio tetap tidak mengembalikan method yang spesifik untuk class tersebut, melainkan hanya class bersifat umum yaitu Object.

Mengapa demikian?  Penelusuran kode program membawa saya ke method addTypeProperties() di class JSContentAssistProcessor.  Pada method ini terdapat sebuah baris kode program seperti berikut ini:

Collection properties = indexHelper.getTypeMembers(index, allTypes);

Lalu, apa isi dari method getTypeMembers()? Isinya seperti berikut ini:

public Collection getTypeMembers(Index index, List<String> typeNames) {
return CollectionsUtil.union(getMembers(index, typeNames), getMembers(getIndex(), typeNames));
}

Pada saat melakukan tracing, masing-masing getMembers() telah mengembalikan method yang valid dan benar.  Tetapi pada saat keduanya digabungkan kedalam sebuah Set, selalu ada yang hilang!  Hal ini tiba-tiba mengingatkan saya pada ‘bug‘ yang saya temui di journal #4 sehubungan dengan nilai di Set yang menghilang.   Ternyata benar, class FunctionElement belum memiliki method equals() dan hashCode().  Saya segera memilih menu Source, Generate hashCode() and equals().

Sampai disini semua sudah mendingan, tapi petualangan belum berakhir.  Mengapa demikian?  Karena method yang muncul selalu terduplikasi, ada yang mengandung dokumentasi dan ada yang tidak.  Padahal, saya menginginkan hanya yang mengandung dokumentasi saja yang ditampilkan (dan tampilkan versi tidak terdokumentasi bila seandainya tidak ada yang lebih baik).

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, saya mengubah method visit di JSNodeTypeInfererrer menjadi seperti:

public void visit(JSGetPropertyNode node)
{
   ... // kode program diabaikan
   if (properties!=null)
   {
      for (PropertyElement property: properties)
      {
          if (property instanceof FunctionElement)
          {
              FunctionElement function = (FunctionElement) property;
              boolean adaVersiTerdokumentasi = false;
              if (function.getDescription()==null || function.getDescription().length()==0) {
                  for (PropertyElement item: properties) {
                     if (item instanceof FunctionElement && item.getName().equals(function.getName()) && 
                         item.getDescription()!=null && item.getDescription().length()>0) {
                         adaVersiTerdokumentasi = true;
                     }
                  }
              }
              if (adaVersiTerdokumentasi) continue;

              ... // kode program diabaikan
          }

          ... // kode program diabaikan
      }
   }
}

Belajar dari petualangan hari ini, saya sudah beberapa kali melakukan filtering elemen yang mengandung dokumentasi.  Sepertinya logika ini bisa dikumpulkan ke sebuah class sehingga saat melakukan perubahan, saya cukup mengubah class tersebut.

Sekarang, saya akan melakukan pengujian, misalnya, saya akan memanggil method static Callback seperti berikut ini:

Menampilkan Content Assist Untuk $

Menampilkan Content Assist Untuk $

Context info untuk method tersebut akan muncul seperti yang terlihat di gambar berikut ini:

Menampilkan Context Info Untuk Callbacks

Menampilkan Context Info Untuk Callbacks

Setelah itu, bila saya memanggil salah satu method object Callbacks, maka content assist akan muncul, seperti berikut ini:

Menampilkan Content Assist Untuk  Object Callbacks

Menampilkan Content Assist Untuk Object Callbacks

Beruntungnya, content assist pada saat terjadi chaining tetap bekerja dengan baik seperti yang terlihat di gambar berikut ini:

Content  assist setelah method add di Calllbacks

Content assist setelah method add di Calllbacks

Aptana Journal #8: Example

Pada file ScriptDoc XML yang saya buat, saya selalu menyertakan bagian <examples>  seperti berikut ini:

<examples>
  <example>Find all div elements within an XML document from an Ajax response.
   $("div", xml.responseXML);</example>
</examples>

Saat ini, isi examples tersebut tidak akan ditampilkan di context info ataupun di proposal content assist.  Lalu, kapan ditampilkan?  Pada saat hover (meletakkan mouse agak lama) pada posisi perintah JavaScript, akan muncul sebuah dialog yang berisi dokumentasi.  Saya merasa lebih baik bila context info juga menyertakan isi examples sehingga saya bisa mengetahui dengan cepat cara pakai method JavaScript yang sedang saya ketik.

Bagaimana caranya?  Beruntungnya, rancangan Aptana Studio cukup baik, karena hal-hal yang berkaitan dengan penampilan context info berada di satu class yaitu JSModelFormatter.  Class ini menyediakan instance static-nya dengan nama CONTEXT_INFO seperti yang terlihat di cuplikan kode program berikut ini:

public static final JSModelFormatter CONTEXT_INFO = new JSModelFormatter(false, Section.SIGNATURE)
{
   private static final String BULLET = "\u2022";
   private TagStripperAndTypeBolder stripAndBold = new TagStripperAndTypeBolder();

   public String getDocumentation(Collection<PropertyElement> properties)
   {
      ...
   }
}

Nilai String yang dikembalikan oleh method getDocumentation() di atas akan langsung ditampilkan sebagai context info.  Dengan demikian, bila saya ingin menampilkan examples pada context info, maka saya dapat menambahkan baris program di sekitar akhir dari method yang isinya seperti berikut ini:

result.add("\nExamples:");
result.add(StringUtil.concat(function.getExamples()));

Sekarang, bila saya menampilkan context info, saya juga akan memperoleh informasi examples seperti yang terlihat pada gambar berikut ini:

Tampilan Context Info Disertai Examples

Tampilan Context Info Disertai Examples

Aptana Journal #7: Alias

Pada petualangan sebelumnya, constructor jQuery berhasil dimunculkan dengan baik.  Tapi hal ini tidak berlaku untuk $.  Sebagai informasi, $ adalah alias untuk jQuery sehingga apa yang muncul sebagai constructor jQuery juga harus muncul sebagai $.   Pendekatan yang saya pakai mungkin akan menghilangkan perbedaan antara static method dan instance method, tapi ini adalah trade-off yang masih dapat ditoleransi.   Okay, tapi content assist dan context info untuk $  saat ini tidak bekerja dengan baik!  Padahal, saya sudah menambahkan baris berikut ini di file *.sdocml:

... 
  <aliases>
    <alias name="$" type="jQuery" />
  </aliases>
...

Mengapa content assist masih tidak bekerja dengan baik?  Untuk menjawab pertanyaan ini, saya kembali melihat isi method index() di class SDocMLFileIndexingParticipant. Bagian yang menarik adalah di berikut ini:

public void index(BuildContext context, Index index, IProgressMonitor monitor) throws CoreException
{

   ... // diabaikan

   // process results
   JSIndexWriter indexer = new JSIndexWriter();
   TypeElement[] types = reader.getTypes();
   AliasElement[] aliases = reader.getAliases();
   URI location = context.getURI();

   ... // diabaikan

   for (AliasElement alias: aliases)
   {
      String typeName = alias.getType();
      PropertyElement property = window.getProperty(typeName);
      if (property!=null)
      {
         if (property instanceof FunctionElement)
         {
            property = new FunctionElement((FunctionElement) property);
         }
         else
         {
            property = new PropertyElement(property);
         }
         property.setName(alias.getName());
      }
      else 
      {
         property = new PropertyElement();
         property.setName(alias.getName());
         property.addType(typeName);
      }
      window.addProperty(property);
   }

   indexer.writeType(index, window, location);

   ... // kode diabaikan
}

Pada kode program di atas, terlihat bahwa window.getProperty(typeName) akan dipanggil untuk mendapatkan tipe alias. Hasil kembaliannya selalu 1 buah PropertyElement!  Padahal $ harusnya adalah alias untuk seluruh variasi constructor jQuery (yang jumlahnya lebih dari 1).

Oleh sebab itu, saya menambahkan sebuah method baru di class TypeElement yang akan mengembalikan seluruh PropertyElement dengan nama yang sama (bila ada!). Berikut ini adalah isi method tersebut:

public List<PropertyElement> getProperties(String name)
{
  List<PropertyElement> listReturn = new ArrayList<PropertyElement>();
  if (name!=null && name.length()>0 && this._properties!=null) {
    for (PropertyElement property: this._properties) {
      if (name.equals(property.getName())) {
        listReturn.add(property);
      }
    }
  }
  return listReturn;
}

Berikutnya saya menyesuaikan method index() di SDocMLFileIndexingParticipant agar memanggil method yang baru saya buat di atas, dimana perubahan yang saya lakukan terlihat seperti berikut ini:

... // kode program di abaikan
for (AliasElement alias: aliases)
{
  String typeName = alias.getType();
  List<PropertyElement> listProperties = window.getProperties(typeName);
  if (listProperties.size() > 0) {
    for (PropertyElement property: listProperties) {
      if (property instanceof FunctionElement) {
        property = new FunctionElement((FunctionElement) property);
      } else {
        property = new PropertyElement(property);
      }
      property.setName(alias.getName());
      window.addProperty(property);
    }
  } else {
    PropertyElement property = new PropertyElement();
    property.setName(alias.getName());
    property.addType(typeName);
    window.addProperty(property);
  }
}
... // kode program diabaikan

Perjuangan masih belum selesai sampai disini!  Karena deskripsi dokumentasi tiba-tiba saja hilang entah kemana!!! Loh?  Mengapa?

Untuk menjawab keanehan baru tersebut, saya memeriksa isi constructor FunctionElement. Okay, constructor akan men-copy beberapa nilai dari base seperti _parameters, _returnTypes, dan sebagainya. Tidak ada yang men-copy _description disini!

Okay, berarti copy _description mungkin dilaksanakan di parent class-nya yaitu PropertyElement. Jadi, saya memeriksa isi constructor PropertyElement. Disini beberapa nilai dari base seperti _owningType, _types dan _examples akan di-copy! Tapi tidak ada yang men-copy _description sama sekali!  Wow, padahal _examples saja di-copy disini, masa _description tidak diikutkan? Oleh sebab itu, saya mengubah constructor PropertyElement sehingga terlihat seperti berikut ini:

public PropertyElement(PropertyElement base)
{
  this._owningType = base.getOwningType();
  this._isInstanceProperty = base.isInstanceProperty();
  this._isClassProperty = base.isClassProperty();
  this._isInternal = base.isInternal();
  this._types = new ArrayList<ReturnTypeElement>(base.getTypes());
  this._examples = new ArrayList<String>(base.getExamples());

  // Menambah deskripsi
  super.setDescription(base.getDescription());
}

Sekarang content assist dan context info untuk $ dapat bekerja dengan baik seperti yang terlihat di gambar berikut ini:

Content Assist  Untuk Tanda $

Content Assist Untuk Tanda $

Aptana Journal #6: Struktur Class Yang Aneh

Berangkat dari petualangan sebelumnya, dimana saya mengira semuanya sudah beres, tapi ternyata tidak.  Content assist dan context info hanya bekerja dengan benar di statement pertama.  Pada statement atau baris berikutnya, context info mulai sedikit ngawur.  Bahkan context info sama sekali tidak muncul untuk JavaScript yang berada dalam HTML.   Mengapa bisa demikian?

Setelah melakukan penelurusan, saya menemukan bahwa permasalahan terletak pada nilai contextInformationOffset yang diberikan pada saat memanggil method showContextInformation() di insertProposal() di class CompletionProposalPopup:

private void insertProposal(ICompletionProposal p, char trigger, int stateMask, final int offset)
{
  ... // kode diabaikan
  try
  {
     ... // kode diabaikan
     if (info != null)
     {
        int contextInformationOffset;
        if (p instanceof ICompletionProposalExtension)
        {
           ICompletionProposalExtension e = (ICompletionProposalExtension) p;
           contextInformationOffset = e.getContextInformationPosition();
        }
        ... // kode diabaikan
        fContentAssistant.showContextInformation(info, contextInformationOffset);
     }
     else
     {
        fContentAssistant.showContextInformation(null, -1);
     }
}

Nilai contextInformationOffset yang saya peroleh selalu 0 apapun yang terjadi.  Padahal ini seharusnya mengikuti posisi context.  Mengapa demikian?

Sebuah proposal untuk function diwakili oleh PropertyElementProposal.  Class tersebut diturunkan dari class CommonCompletionProposal.  Pada class CommonCompletionProposal, saya dapat menemukan atribut _replacementOffset dan method getContextInformationPosition().  Secara insting, saya mengira bahwa atribut dan method tersebut dipakai untuk menyimpan offset.   Dengan demikian, saya tinggal menyertakan nilai yang dibutuhkan melalu constructor di PropertyElementProposal.  Karena PropertyElementProposal adalah turunan dari CommonCompletionProposal, maka nilai tersebut seharusnya tinggal dipakai.

Lalu apa yang salah?  Well, asumsi saya terlalu naif!  Hal ini terbukti setelah saya memeriksa isi method getContextInformationPosition() di CommonCompletionProposal yang berupa:

public int getContextInformationPosition()
{
  return 0;
}

Ternyata apapun yang terjadi, nilai yang dikembalikan selalu 0.

Untuk mengatasi permasalahan yang ada, saya akan men-override method getContextInformationPosition() yang ada di CommonCompletionProposal dengan yang ada di PropertyElementProposal. Dengan demikian, perilaku CommonCompletionProposal tetap sama, karena saya tidak yakin kenapa nilai kembaliannya harus 0; sementara cukup perilaku PropertyElementProposal yang berubah sesuai dengan kebutuhan saya. Berikut ini adalah isi getContextInformationPosition() di PropertyElementProposal:

@Override
public int getContextInformationPosition()
{
  return super._replacementOffset;
}

Setelah penambahan method ini, context info akhirnya bekerja sesuai dengan yang diharapkan.